Eksekusi 3 Dokter Kasus Malpraktek Kembali Bergulir

JPU bantah salah satu penyebab kajati dicopot

METRO, Manado- Setelah terkatung-katung, proses eksekusi tiga dokter terpidana kasus malpraktek akhirnya kembali bergulir. Ketiga dokter dimaksud masing-masing, dr Dewa Ayu Sasiary Prawani (38), dr Hendry Simanjuntak (38), dan dr Hendy Siagian (30).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Romi Johanes SH, saat dikonfirmasi Senin (02/09) kemarin membenarkan soal itu. Menurutnya, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Manado, Yudi Handono SH MH, telah menandatangani surat panggilan eksekusi bagi dr Ayu Cs.

“Suratnya diterbitkan tadi (kemarin,red), dan langsung dikirim kepada terpidana melalui penasehat hukum mereka,” ungkapnya.

Romi menjelaskan, surat tersebut bersifat pemberitahuan kepada terpidana, bahwa mereka akan segera dieksekusi. Surat dimaksud berlaku selama satu minggu.

“Artinya, jika dalam satu minggu kedepan tidak ada tanggapan dari terdakwa ataupun penasehat hukumnya, surat kedua kita kirim. Begitu juga surat ketiga, sampai akhirnya kita lakukan penangkapan,” terang Romi.

Saat ditanya apakah ada hubungan antara berlarut-larutnya proses eksekusi dengan mutasi Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulut, DR Onggal Siahaan SH SSos MH, ditampik mantan Kasi Pidum Kejari Manado ini.

“Oh itu tidak,” singkatnya.

Indikasi adanya intervensi kajati dalam pelaksanaan eksekusi, mencuat beberapa waktu lalu. Indikasi ini disuarakan keluarga almarhum Julia Fransiska Makatey, saat kasus tersebut dalam proses persidangan Peninjauan Kembali (PK), sekitar April lalu di Pengadilan Negeri (PN) Manado.

Masalahnya, mengaku kesulitan mencari tahu keberadaan tiga terpidana, JPU justru terkesan tak berkutik saat bertemu dengan mereka dalam proses persidangan PK. Padahal kalau mau, lagipula sesuai aturan kasus itu sudah inkracht (berkekuatan hukum tetap,red), sejatinya dr Ayu Cs waktu itu sudah ditangkap.

Belakangan, tak puas dengan batalnya eksekusi, keluarga korban kembali menyurat ke Kejaksaan Agung (Kejagung) RI, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam surat tersebut, keluarga menuntut keadilan agar dr Ayu Cs segera menjalani hukuman mereka.

“Torang so menyurat ulang ke pusat. Moga-moga torang pe permohonan diterima,” ujar Yulien Mahengkeng, ibunda almarhum Fransiska, saat bertemu wartawan pekan lalu.

Sementara itu, salah satu penasehat hukum dr Ayu Cs, Jerry Tambun SH LLM SJD, saat dikonfirmasi via ponsel perihal surat panggilan pertama, mengaku belum menerimanya. Akan tetapi, kemungkinan saat dihubungi yang bersangkutan memang belum menerima surat itu, mengingat pengirimannya baru dilakukan.

Sebagaimana data yang ada, dr Ayu, dr Hendry, dan dr Hendy, oleh Majelis Hakim Mahkamah Agung (MA) RI yang mengadili permohonan kasasi JPU, menyatakan ketiganya bersalah melanggar Pasal 359 KUHP Jis Pasal 361 KUHP, Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, atau subsidair Pasal 359 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Ketiganya dihukum 10 bulan penjara atas tindakan mereka yang menyebabkan nyawa almarhum Fransiska meninggal dunia, saat melakukan Operasi Cito Secsio Sesaria pada Sabtu 10 April 2010 sekitar pukul 23.00 WITA, di RSUP Kandou Manado. Putusan MA tersebut dengan sendirinya membatalkan vonis bebas yang dijatuhkan pengadilan tingkat pertama di PN Manado. Sekarang, meski putusan permohonan PK dari para terpidana belum turun, akan tetap hal itu tidak menghalangi pelaksanaan eksekusi.(69)